Manusia memiliki kebutuhan yang sangat beragam dan kompleks baik secara eksternal atau internal, material atau non-material, jasmani maupun rohani. Seorang dikatakan bahagia apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi tergantung pribadi masing-masing orang. Salah satu yang dibutuhkan oleh manusia pada hakekatnya adalah pasangan, sesuai Firman Allah bahwa tidak baik manusia itu seorang diri saja (Kejadian 2:18).
Pasangan adalah pribadi yang melengkapi hidup jasmani manusia dalam mewujudkan hidup bahagia dan sempurna walaupun sebagian orang memilih untuk tidak memiliki pasangan (tidak menikah) karena berbagai alasan. Memiliki pasangan (pacar) menjadi suatu impian seorang yang sudah dewasa dengan kriteria yang beragam, setelah itu berjuang keras mempertahankan hubungannya, mengumpulkan banyak uang supaya ia dapat bersatu dengan pasangannya (menikahinya) meskipun sebagian besar anak muda berpasang-pasangan dengan tujuan yang tidak jelas.
Dalam membangun sebuah pernikahan yang baik haruslah diletakkan pada dasar yang benar pula sehingga rumah tangga diberkati Tuhan, sejahtera, dan bahagia. Secara tidak langsung (Tersirat) Allah memberikan sebuah teladan bagi umat manusia melalui karya penciptaan-Nya untuk dijadikan tolok ukur atau hal mendasar (fundamental) sebelum manusia itu dipersatukan (Adam dan Hawa).
Sebab itu, penulis mencoba membagikan kepada kita beberapa hal yang telah ditemukan dalam Alkitab Perjanjian Lama sebelum Allah mempersatukan manusia itu dan implikasinya bagi kehidupan saat ini.
- Kebutuhan (Needs). Kejadian 1:26-31 menceritakan tentang Allah menciptakan manusia itu pada hari yang ke-enam. Menjadi sebuah pertanyaan sederhana, mengapa Allah tidak menciptakan manusia itu pada hari pertama, kedua atau hari lainnya selain hari yang ke-enam? Jika dianalisa dengan logika manusia, suatu hal yang konyol ketika manusia diciptakan pada hari pertama atau hari lainnya selain hari ke-enam, sebab manusia tidak punya tumpuan kakinya, belum ada benda penerang, belum ada pekerjaannya, serta belum ada makanannya. Hal ini memberikan sebuah makna kepada seorang dewasa pentingnya mempersiapkan diri untuk kebutuhan jasmani yakni Rumah/tempat tinggal, Pekerjaan, dan kebutuhan lainnya. Salah satu faktor yang membuat sebuah keluarga tidak bahagia disebabkan karena kebutuhan jasmani yang tidak terpenuhi dengan baik. Faktanya dalam kehidupan nyata, terjadi perceraian, perselingkuhan, penganiayaan (KDRT) dan lain sebagainya disebabkan karena ketidakpuasan akan kebutuhan jasmani. Berdasarkan pengamatan penulis, sepasang burung (jantan dan betina) yang sudah kawin dan mau bertelur mereka membangun sarangnya agar sang betina bertelur dan menetas disitu, jantan menjaga si betina dan anaknya dari bahaya, serta mencari dan memberikan makan kepada mereka. Contoh sederhana ini menjadi sebuah teladan kepada kita untuk mempersiapkan kebutuhan jasmani sebelum bersatu dengan orang yang kita kasihi.
- Gambar Allah (Image of God). Kehidupan manusia tidak hanya berbicara tentang jasmani tapi juga rohani dan ini satu paket yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun kehidupan yang sempurna. Dalam Kejadian 1:26a, manusia itu diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah bukan dengan gambar yang lain. Allah adalah pribadi yang sempurna, artinya kita dibentuk dengan gambar dan rupa yang sempurna seperti Allah, dan Allah kerjakan sebelum manusia itu dipersatukan. Seorang yang se-rupa dan se-gambar dengan Allah, itu artinya dia memiliki sifat-sifat Allah. Jika kita melihat sifat Allah dalam aspek kehidupan moral, Alkitab mencatat bahwa Allah itu baik (Maz. 106:1), Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8), Allah itu penyayang (Kel. 34:6), Allah itu sabar (Bil. 14:18), Allah itu setia (Ul. 7:9), Allah itu adil (Ul. 32:4, 1 Yoh. 1:9), Allah itu murah hati (Luk. 6:36) dan Allah itu mengampuni (Kol. 3:13). Sifat inilah yang harus dimiliki oleh seseorang dalam membentuk sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Dalam kehidupan nyata, terdapat banyak keluarga yang hancur karena tidak memiliki sifat-sifat ini. Suami atau istri tidak saling mengasihi, tidak setia dengan pasangannya, tidak sabar dan tidak mengampuni sehingga rumah tangga bagaikan neraka. Angsa dan merpati terkenal dengan spesies binatang yang setia pada satu pasangan, penuh kasih dan penyayang. Angsa mencari pasangan baru jika pasangannya mati sedangkan merpati mencari pasangan sekali seumur hidup. Teladan sederhana ini menjadi contoh dari sifat Allah untuk kita miliki supaya sukacita surga (kebahagiaan) ada dalam keluarga yang akan dibentuk.
- Jodoh (Partner). dalam Kejadian 2:18-22 menceritakan tentang Allah ingin memberikan seorang penolong yang sepadan dengan manusia itu (Adam), lalu membuat dia tertidur dan mengambil salah satu rusuknya, lalu dibangun-Nyalah seorang perempuan (Hawa) dan dibawanya kepadanya. Ini memberikan sebuah makna bahwa pasangan tidak datang atau lahir dari usaha manusia melainkan inisiatif Allah (Kejadian 2:18) karena Allah tahu pasangan yang sepadan dengan kita, dan itu diberikan ketika kehidupan jasmani dan kehidupan rohani sudah dibangun dengan baik. Sebagian besar anak muda bahkan yang seharusnya belum waktunya, berorientasi kepada pasangan bukan mempersiapkan diri pada kebutuhan jasmani (Pekerjaan, pendidikan, Skill, rumah dan sebagainya) dan menjadi se-rupa dan se-gambar dengan Allah (Sifat-Nya). Matius 6:33 berkata “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kerajaan Allah dan kebenarannya berbicara tentang kehidupan kita yang sesuai dengan Firman Tuhan. Itu artinya bahwa pada waktu-Nya Tuhan, seorang yang hidupnya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, pasti memperoleh semua yang seharusnya ia butuhkan, termasuk pasangan.
Demikianlah artikel singkat ini semoga menjadi berkat bagi kita semua, kiranya Kasih Karunia, Damai Sejahtera dan Sukacita dari Tuhan menyertai kita.
Tuhan Yesus Memberkati…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar